22/12/16

Dibalik Fenomena “Om Telolet Om”. Dimanakah Ruang Hiburan Bagi Anak?

om, telolet, bus, hiburan, anak-anak

Akhir-akhir ini media sosial sedang dihebohkan oleh fenomena baru yaitu “Om Telolet Om”. Aksi sekelompok anak yang sengaja berdiri di pinggir jalan raya untuk menunggu bus antar kota yang melintas sambil membunyikan suara klaksonnya yang khas yaitu “te..lo..let...te..lo...let”.

Sebuah bunyi yang sederhana namun mampu memberikan hiburan tersendiri bagi anak-anak hingga mereka mau menunggu bus melintas untuk meminta sang pengemudi membunyikan klakson sambil berteriak atau memajang tulisan om..telolet..om.

Fenomena ini semakin viral ketika ada artis luar negeri yang membuat status dalam akun sosialnya dan menjadi perhatian publik dengan berbagai tanggapannya.

Melihat fenomena ini, coba mari kita lihat sekilas dunia hiburan anak sekarang ini, apakah sudah habis ruang bagi mereka untuk bermain? Ataukah tidak ada lagi hiburan serta kegiatan bagi mereka untuk melepaskan ketegangan serta beban mental mereka dari pelajaran yang harus mereka serap setiap hari.

Fenomena ini menjadi bahan refleksi bagi kita selaku orang dewasa dalam peran sertanya menyelenggarakan ruang terbuka bagi anak-anak kita untuk memiliki waktu yang bebas tidak terikat oleh penjara waktu dan gedung yang menuntut mereka duduk manis dan mendengarkan para pengajar menyelesaikan tugasnya demi memenuhi tuntutan kurikulum di sekolahnya.

Bunyi klakson adalah sesuatu yang sederhana, dengan durasi yang bisa dibilang pendek sekali, namun anak-anak sudah merasakan udara kebebasan, mereka merasa haknya telah kembali dimana sebelumnya mereka gadaikan di bangku sekolah. Tempat yang seolah-olah menjadi satu-satunya harapan untuk kesuksesan akan masa depannya dengan embel-embel gelar yang bisa mereka pamerkan kepada teman-teman yang tidak senasib dengannya. Namun pada kenyataannya sekarang ini banyak gelar yang dilipat rapi didalam lemari tanpa berani lagi untuk dibukanya, walupun hanya sekedar membersihkan kotoran atau debu yang menempelnya.

Terlepas dari sisi keamanan dan etika, perilaku “om..telolet..om” ini mampu memberikan gelak tawa kebahagiaan bagi anak-anak kita jaman sekarang ini. Bukankah jaman kita dahulu lebih canggih dari sekedar teriak om...telolet...om. Jaman kita dahulu usia remaja sudah mampu membuat pesawat dari kertas, membuat senjata dengan bambu, membuat mobil dengan sandal bekas, membuat layang-layang raksasa dengan bentuk wayang anoman, kemana semua itu sekarang?

Apakah generasi sekarang ini bisa kita sebut sebagai generasi “Karbitan”?

Generasi yang dikarbitkan untuk menjadi dewasa lebih dini dengan beban materi yang mungkin seharusnya diterima oleh anak-anak 3 tahun lebih tua di jaman generasi pendidikan kita kala itu. Anak-anak diberikan berbagai kegiatan dengan dalih memperkaya ilmu dan kreatifitas dengan sistem yang terprogram oleh kerangka waktu yang sudah paten demi rupiah yang telah digelontorkan oleh orang tua untuk kursus-kursus yang belum tentu menjadi permintaan batin seorang anak yang secara sederhana mereka hanya membutuhkan kebebasan dari jeratan waktu yang selalu mengekangnya.

Coba lihat kembali fenomena ini. Anak-anak itu dapat tertawa lepas hanya karena bunyi klakson, bayangkan bunyi klakson... Apakah mereka menuntut lebih, atau fasilitas yang mahal hanya untuk sekedar tertawa dan bergembira bersama teman-temannya? Ternyata tidak, kita sebagai orang dewasa terkadang terlalu menyempitkan makna kebahagian bagi anak yang usianya belum begitu matang untuk memikirkan tanggung jawab masa depan yang belum bisa mereka bayangkan. Meraka hanya butuh bermain dan bergembira.

Mari kita lihat sekarang ini, bagaimana ruang media massa dipenuhi dengan polemik politik dan intrik-intrik lainya dimana anak-anak kita belum bisa menyaring mana itu kabar yang benar dan mana itu kabar yang tidak benar. Mereka pusing, mereka bingung.. yang mereka butuhkan hanya tertawa dan bergembira bersama teman-temannya tanpa ada tipu muslihat yang dipertontonkan oleh kaum dewasa yang katanya menjadi contoh dan panutannya.

Mari kita lihat juga lingkungan sekitar kita, hanya untuk menendang bola mereka harus merogoh kocek, hanya sekedar menendang bola bersama sahabatnya yang sama-sama ingin menggoyangkan kakinya untuk menumbuhkan impian mereka menjadi Christiano Ronaldo atau Messi masa depan seperti yang mereka impikan ketika sedang terlelap tidur dengan bayangan beban tugas mata pelajaran yang harus mereka hadapi esok harinya.

Apakah kita akan menciptakan generasi robot yang patuh pada waktu dan perintah yang telah diprogram oleh sang majikan? Dalih ingin memaksimalkan pendidikan, hingga muncul kembali wacana jam belajar pagi sampai sore, tanpa ada lagi ruang bermain bagi mereka? Apakah mereka harus menjadi Ronaldo jam 7 malam? Atau menjadi messi jam 3 pagi?

Sekali lagi anak itu hanya butuh tertawa, bukan untuk menjadi berandalan. Mereka butuh ruang permainan yang tidak memiliki batasan kreatifitas oleh kurikulum yang terususun secara kaku. Mereka hanya butuh berkumpul dengan sahabat-sahabatnya tanpa melihat batasan embel-embel apapun yang sekarang ini sedang diributkan oleh orang dewasa yang katanya mengerti akan masa depan baik di dunia maupun di akhirat.

Berikanlah mereka tempat khusus di media massa maupun elektronik untuk memperlihatkan karakter dan bakatnya. Biarlah orang yang katanya dewasa itu melihat bahwa anak-anak kita mampu melompat setinggi 2,5 meter melebihi rekor Ana Chicherova, mampu berlari kencang melebihi Usain Bolt, bahkan berenang dengan gaya kupu-kupnya bak Joseph Schooling.

Jangan sampai generasi ini menjadi sebuah angkatan yang terdikte oleh doktrin-dontrin formalitas yang belum tentu mengembangkan jati diri serta kemampuan asli seorang anak. Biarkan generasi ini menjadi generasi bintang untuk memenangkan piala AFF entah ditahun berapa.

Selamat berjuang generasi penerus bangsa, jadikan kami bangga kepada segala kreatifitas dan keunggulanmu, menjadi bangsa yang berani menunjukkan jati diri dan menjadi sosok yang brilliant sehingga bangsa lain tidak lagi menginjak-nginjakmu di masa yang akan datang.

Kolom Komentar >>BukaTutup