11/02/17

Membangun Budaya Disiplin Melakukan Angsuran Kredit

Membangun sebuah budaya untuk disiplin dalam melakukan angsuran kredit perlu ditanamkan dalam diri setiap debitur. Hal ini untuk menghindari jeratan hutang yang semakin melilit dan menjadi beban berat dalam kehidupan seseorang.-Cahayalentera.net.

budaya disiplin; disiplin kredit; angsuran kredit;
Sumber Foto: www.pixabay.com

Dengan semaraknya barang-barang yang masuk ke Indonesia baik itu barang elektronik, mobil, motor dan sebagainya maka disitu juga semakin berkembang jasa layanan finance yang siap memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin memiliki barang tersebut tanpa membeli secara cash.

Dengan berbagai tawaran promo baik jumlah besaran cicilan, waktu cicilan hingga potongan uang muka semakin membuat orang tergiur untuk mengambil kredit. Dengan angsuran yang terjangkau orang akan memilih untuk mengambil kredit daripada cash karena beban pengeluaran yang lebih ringan dibanding dengan mengambil semua tabungan untuk sekedar membeli barang-barang yang mereka butuhkan.

Untuk mengajukan kredit sendiri, saat ini perusahaan finance mulai memberikan peraturan yang lebih lunak. Cukup dengan foto copy KTP dan slip gaji serta beberapa keterangan pendukung sudah bisa dipakai untuk melakukan pengajuan kredit. Apalagi jika pengambil kredit tersebut adalah pegawai negeri sipil maka ada beberapa syarat yang diperingan karena kepercayaan perusahaan finance terhadap PNS.

Dibalik semua kemudahan tadi yang diberikan dari perusahaan finance tentu saja ada tanggung jawab khusus yang harus di emban oleh pelaku kredit. Setiap orang yang memiliki hutang kredit baik itu barang elektronik, motor, mobil dan lain sebagainya hendaknya selalu disiplin dalam melakukan angsuran kredit setiap bulan.

Budaya disiplin dalam melakukan angsuran kredit harus betul-betul ditanamkan pada setiap debitur atau pelaku kredit. Hal ini perlu dilakukan sehingga tidak terjadi resiko kemacetan kredit hingga kolektor datang untuk mengambil barang jaminan.

Hal pertama yang membuat orang untuk tidak melakukan angsuran secara tertib adalah rasa menyepelekan kewajiban pokok. Orang akan mempergunakan dana yang seharusnya untuk kepentingan kredit, ia pergunakan untuk keperluan yang lain. Tentu saja sikap ini merupakan sikap inkonsistensi dalam mengemban tanggung jawab sebagai debitur.

Hal lain yang mungkin menjadi penyebab orang tidak bisa melakukan angsuran kredit secara rutin adalah kurang memperhitungkan antara pendapatan dan pengeluaran. Ketika beban pengeluaran baik itu kebutuhan rumah tangga, sekolah hingga kewajiban membayar angsuran lebih besar dari pendapatan setiap bulan maka tentu saja akan mengakibatkan angsuran yang tidak stabil.

Kondisi tersebut tentu saja tidak perlu terjadi atau tidak mungkin terjadi jika sejak awal para debitur ini memberikan data yang valid dalam pengajuan kredit seperti slip gaji atau pendapatan bersih tiap bulan.
Dampak dari kredit yang macet hingga batas waktu jatuh tempo yang diberikan oleh pihak finance adalah pencabutan barang jaminan. Hal ini tentu saja akan merugikan bagi pihak debitur itu sendiri karena barang yang mereka miliki beserta uang yang selama ini mereka bayarkan akan hangus dan tidak kembali.

Maka dari itu langkah awal sebelum melakukan kredit sebaiknya memperhitungkan baik-baik antara pendapatan dan pengeluaran tiap bulan agar angsuran kredit tidak menjadi beban yang justru akan menyusahkan debitur itu sendiri.


Memiliki barang yang diinginkan bukan sesuatu yang salah, namun ketika semua itu tidak dilakukan secara bijak, maka justru akan menjadi batu sandungan dalam menjalani kehidupan. Dengan beban pengeluaran yang terlalu tinggi bisa membuat orang stress dan berdampak pada segala sektor kehidupan seperti kesehatan, pekerjaan dan rumah tangga. Jadi pertimbangkan baik-baik sebelum mengambil kredit sehingga bisa menjadi orang yang memiliki budaya tertib dalam melakukan angsuran kredit.

Kolom Komentar >>BukaTutup