19/06/17

BPOM Menarik 4 Produk Mi Instan Dari Korea Karena Mengandung DNA Babi

Belum lama ini BPOM telah mengeluarkan perintah penarikan 4 produk mi instan dari korea karena setelah dilakukan test lab, BPOM menemukan kandungan positif DNA babi pada 4 produk mi instan ini.

Untuk menjaga keamaan, mutu dan gizi makanan BPOM telah mengeluarkan peraturan No 12 Tahun 2016 yang menyatakan bahwa setiap makanan yang mengandung bahan baku yang berasal dari babi harus menyertakan kompoisisnya dalam kemasan makanan tersebut serta memberikan logo gambar babi warna merah dengan background putih pada wadah pembungkusnya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah bagi calon konsumen dalam mengidentifikasi kandungan dari makanan tersebut.

Melalui website resmi BPOM www.bpom.go.id , pihak BPOM telah mengambil beberapa sampel makanan mi instan yang berasa dari korea dan ditemukan secara positif kandungan DNA Babi pada 4 produk mi isntan di bawah ini:

  • Mi Instan Samyang U-Dong.

  • mi mengandung babi; mi korea
    Sumber: www.bpom.go.id

  • Mi Instan Nongshim (Shin Ramyun Black)

  • mi mengandung babi; mi korea
    Sumber Gambar: www.bpom.go.id
  • Mi Instan Ottogi (Yeul Ramen)

  • mi mengandung babi; mi korea
    Sumber Gambar: www.bpom.go.id

  • Mi Instan Samyang Rasa Kimchi

  • mi mengandung babi; mi korea
    Sumber Gambar: www.bpom.go.id

Dalam keterangan resminya BPOM menyampaikan bahwa 4 produk tersebut tidak meyertakan komposisi yang mengandung DNA babi dalam kemasan serta logo gambar babi sesuai dengan peraturan no 12 tahun 2016. Untuk itu secara resmi BPOM pusat menghimbau kepada seluruh BPOM daerah untuk menarik produk tersebut dari pasaran serta menghimbau peran aktif masyarakat untuk melaporkan kepada BPOM apabila menemukan produk-produk yang dicurigai mengandung zat tertentu dan tidak memenuhi ketentuan yang berlaku.

BPOM secara terus menerus akan menghimbau kepada pelaku usaha agar bertindak sesuai ketentuan yang belaku untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Peran aktif masyarakat akan sangat membantu dalam pengawasan obat dan makanan yang beredar dalam masyarakat sehingga resiko terhadap peredaran obat dan makanan yang tidak sesuai dengan peraturan akan semakin berkurang.

Kolom Komentar >>BukaTutup