10/10/17

Bisnis Es Dawet dan Camilan dari Daging Lele Beromzet Rp 70 Juta/Bulan

Bisnis es dawet dan camilan dari daging lele
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Siapa sangka kalau dari tangan seorang Eka, wanita Boyolali ini, kini telah tercipta Es dawet gaya baru. Biasanya Es dawet yang beredar dipasaran berbahan dasar tepung beras dengan campuran warna dari daun pandan serta kombinasi gula dan santan. Tapi berkat kemahiran Eka, kini telah muncul produk es dawet dengan bahan dasar daging lele. Tidak hanya itu, Eka juga berhasil menciptakan berbagai macam camilan yang enak dan gurih dengan bahan daging lele tersebut.

Tujuan utama Eka dalam memilih bahan dasar ikan lele ini karena ingin memasyarakatkan budaya makan ikan bagi warga sekitar terutama kota asalnya yaitu Boyolali, Jawa Tengah.

Dalam wawancaranya dengan detikFinance di Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS), Cilacap, Jawa Tengah (14/8/2017), Eka mengatakan bahwa konsumsi warga setempat terhadap ikan masih tergolong rendah, selain itu orang Indonesia lebih mengenal ikan goreng, bakar atau kukus. Eka ingin membuat cara lain yaitu dengan membuat es dawet berbahan dasar daging lele, sehingga orang tidak sadar bahwa ia telah mengkonsumsi ikan walaupun melalui minuman es dawet.

Es dawet berbahan dasar daging lele
Es Dawet dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance

Eka juga menambahkan bahwa dengan konsumsi Es Dawet berbahan dasar daging lele ini tentu saja orang yang mengkomsusinya akan memperoleh kandungan protein dan omega yang tinggi. Tidak seperti Es Dawet biasanya yang berbahan dasar beras hanya akan memperoleh karbohidrat tanpa protein.

Dari bisnis Es dawet berbahan dasar daging lele ini, Eka mampu menjual 200 gelas dalam sehari dengan harga Rp. 5000,- per gelas. Omset 1 Juta Perhari bisa Eka dapatkan per harinya.

Untuk menghasilkan hasil Es Dawet yang tidak berbau amis maka Eka memiliki trik khusus. Biasanya dalam satu kilogram tepung beras, Eka membutuhkan 300 gram daging lele. Untuk menghilangkan bau amis maka daging lele yang masih utuh harus dipisahkan dari tulang dan kepalanya. Setelah itu daging yang sudah difillet direndam dalam air bercampur jeruk nipis selam satu jam kemudian dibersihkan dan aduk dengan adonan dawet secara manual.

Eka memang sengaja melakukan pencampuran tersebut secara manual atau tidak memakai blander. Hal ini bertujuan agar tekstur ikan masih tetap terasa ketika orang memakannya.

Dalam mengawali usaha ini, Eka sempat diragukan banyak orang karena dibilang nekat menjual barang amis menjadi manis. Sehinnga pada awal tahun 2010, usahanya belum kelihatan kemajuannya.

Namun semangat juang wanita ini tidak pernah surut, Eka bersama dengan kelompoknya selalu mempromosikan usahanya ini dan memberi edukasi masyarakat bahwa minuman es dawet dari lele ini sangat menyehatkan dan tidak berbau amis.

Camilan berbahan dasar daging lele
Camilan dari daging lele Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance


Makanan Camilan Dengan Bahan Dasar Lele

Selain memproduksi minuman es dawet dari daging lele, Eka juga membuat menu camilan berbahan dasar lele juga. Camilan tersebut antara lain abon, kerupuk, dendeng, bakso, otak-otak, sosis, tahu bakso, galantin, kaki naga, lele crunchy, lestari atau lele segar tanpa duri, nugget lele dan kerupuk kulit lele.

Dari sekian banyak camilan yang diproduksi, Eka menyampaikan bahwa produk yang paling laris adalah Abon Lele. Bahkan produknya sempat dipromosikan dari kementrian perdagangan hingga sampai ke negara Moskow. Produk camilan milik Eka ini dihargai antara Rp.10.000 hingga Rp. 35.000,-

Dalam wawancaranya, Eka menyampaikan bahwa sempat mendapat orderan keripik kulit lele dari Singapura dalam jumlah yang besar hingga ukuran kontainer. Namun permintaan ini ia tolak karena belum sanggup memproduksi sebanyak itu. Hal ini dikarenakan bahan dasar kulit ikan lele yang masih sulit didapat dalam jumlah yang besar, ia hanya sanggup memenuhi permintaan sekitar 100kg-200kg.

Dari bisnis es dawet dan makanan camilan dari daging lele ini Eka mengaku memperoleh penghasilan kotor sebesar Rp 60 - 70 Juta per bulan. Sedangkan dalam perhitungan bersih, Eka menghitung sekitar 25% dari Omzet dan sudah termasuk untuk bahan baku, listrik dan tenaga kerja.

Eka dalam meproduksi makanan tersebut dibantu oleh 15 orang ibu rumah tangga. Ia mengatakan bahwa awal mulanya hanya ingin mengajak beberapa ibu rumah tangga yang sedang menganggur untuk melakukan aktivitas yang produktif dan ternyata itu berhasil hingga sekarang.

Khusus untuk jenis abon lele, Eka telah mendaftarkannya untuk mendapatkan lisensi standar nasional Indonesia (SNI) pada tahun 2015 kemarin. Dengan mendaftarkan secara resmi, ia berharap mampu mengembangkan usahanya ini lebih besar lagi serta mempermudah dalam proses pemasarannya hingga manca negara.

Eka mengaku bahwa banyak teman-temannya yang memiliki usaha yang sama, masih malas untuk mendaftarkan produknya secara resmi untuk mendapatkan lisensi standar nasional Indonesia karena merasa kurang penting dan berfikir lebih baik uang tersebut dipakai untuk modal. Namun bagi Eka ini adalah hal keliru, karena dengan standar yang baik maka akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik pula.

Sumber Artikel: finance.detik.com
Kontributor: Sylke Febrina Laucereno

This Is The Newest Post
Kolom Komentar >>BukaTutup